Selasa, 16 Oktober 2012

pelajar dan budaya


sebagai, manusia pasti mengalami  perubahan-perubahan terhadap kebudayaannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan. Hal ini adalah sesuatu yang wajar sebab kebudayaan diciptakan dan diajarkan dari satu generasi  ke generasi. baik secara perorangan maupun berkelompok.
Adanya pertukaran unsur-unsur budaya karena globalisasi ini mengakibatkan dampak-dampak yang besar bagi masyarakat. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semua untuk dapat menyikapi secara bijaksana. Globalisasi merupakan suatu gejala terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi yang mengikuti perkembangan zaman di seluruh dunia karena adanya kemajuan teknologi sehingga memperlancar interaksi antar warga dunia.
Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi juga berdampak pada mudahnya akses masuk budaya asing ke suatu negara. Indonesia sebagai salah satu negara dengan populasi penduduk yang cukup tinggi juga termasuk salah satu negara yang dimasuki oleh budaya asing,. Hal ini berpengaruh cukup besar pada pergeseran gaya hidup maupun sikap dan perilaku pelajar di Indonesia,. Hal tersebut sedikit banyak menggambarkan kondisi siswa di SMA Negeri 1 Ciawi.
Pelajar saat ini sedikit banyak sudah banyak melupakan kebudayaannya sendiri. Seharusya saat ini budaya Indonesia perlu dilestarikan. Di SMA Negeri 1 Ciawi terdapat 2 ekstrakulikuler yang berhubungan dengan kebudayaan, yaitu Degungan dan pencak silat. Tapi, untuk tahun ajaran 2012/2013 tidak ada satupun siswa yang mengikuti ekskul pencak silat. Sungguh disayangkan memang. Sebenarnya ini menjadi pekerjaan rumah kita semua, siswa dan pihak sekolah. Bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia.
Contoh yang lebih umum lagi yaitu tawuran yang akhir-akhir ini sering dibicarakan di media massa. Mungkin di SMA Negeri 1Ciawi tawuran bukan menjadi “kebudayaan” pelajar, namun kemungkinan untuk terjadi sangat besar. Apalagi pelajar di SMA Negeri 1 Ciawi sangat labil dan mudah terbawa arus. Tentunya pencegahan sangat diperlukan di sini. Satu lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sehingga muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikatakan sebagai agen perubahan di masa saat ini? tentu saja jawabannya adalah ya! masih ada pemuda-pemuda Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia. Sebagai contoh kegiatan PENSI pada peringatan HUT SMAN1C ke-36 (Rabu-Kamis/17-18 Oktober 2012) pihak sekolah dan OSIS berusaha menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia dengan mengadakan lomba bertema kebudayaan. Ini merupakan langkah awal yang bagus untuk menjadikan siswa smanic yang kreatif dan memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap Indonesia. Sehingga untuk beberapa tahun kedepan pekerjaan rumah dapat terselesaikan.(Ricki M. Y.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar