sebagai,
manusia pasti mengalami perubahan-perubahan terhadap kebudayaannya
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan. Hal ini adalah sesuatu yang
wajar sebab kebudayaan diciptakan dan diajarkan dari satu generasi ke
generasi. baik secara perorangan maupun berkelompok.
Adanya
pertukaran unsur-unsur budaya karena globalisasi ini mengakibatkan
dampak-dampak yang besar bagi masyarakat. Hal ini merupakan tantangan bagi kita
semua untuk dapat menyikapi secara bijaksana. Globalisasi merupakan suatu
gejala terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi yang mengikuti perkembangan
zaman di seluruh dunia karena adanya kemajuan teknologi sehingga memperlancar
interaksi antar warga dunia.
Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi juga
berdampak pada mudahnya akses masuk budaya asing ke suatu negara. Indonesia
sebagai salah satu negara dengan populasi penduduk yang cukup tinggi juga
termasuk salah satu negara yang dimasuki oleh budaya asing,. Hal ini
berpengaruh cukup besar pada pergeseran gaya hidup maupun sikap dan perilaku pelajar
di Indonesia,. Hal tersebut sedikit banyak menggambarkan kondisi siswa di SMA Negeri 1 Ciawi.
Pelajar saat ini sedikit banyak sudah banyak
melupakan kebudayaannya sendiri. Seharusya saat ini budaya Indonesia perlu
dilestarikan. Di SMA Negeri 1 Ciawi terdapat 2 ekstrakulikuler yang berhubungan
dengan kebudayaan, yaitu Degungan dan pencak silat. Tapi, untuk tahun ajaran
2012/2013 tidak ada satupun siswa yang mengikuti ekskul pencak silat. Sungguh disayangkan
memang. Sebenarnya ini menjadi pekerjaan rumah kita semua, siswa dan pihak
sekolah. Bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Indonesia.
Contoh yang lebih umum lagi yaitu tawuran yang
akhir-akhir ini sering dibicarakan di media massa. Mungkin di SMA Negeri 1Ciawi tawuran bukan menjadi “kebudayaan” pelajar, namun kemungkinan untuk
terjadi sangat besar. Apalagi pelajar di SMA Negeri 1 Ciawi sangat labil dan
mudah terbawa arus. Tentunya pencegahan sangat diperlukan di sini. Satu lagi
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sehingga
muncul pertanyaan, apakah masih relevan pemuda dikatakan sebagai agen perubahan
di masa saat ini? tentu saja jawabannya adalah ya! masih ada pemuda-pemuda
Indonesia yang peduli dengan bangsanya. Tinggal bagaimana caranya agar pemuda
lainnya bisa turut berkontribusi untuk perubahan bangsa Indonesia. Sebagai contoh
kegiatan PENSI pada peringatan HUT SMAN1C ke-36 (Rabu-Kamis/17-18 Oktober 2012)
pihak sekolah dan OSIS berusaha menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan
Indonesia dengan mengadakan lomba bertema kebudayaan. Ini merupakan langkah
awal yang bagus untuk menjadikan siswa smanic yang kreatif dan memiliki rasa
cinta yang tinggi terhadap Indonesia. Sehingga untuk beberapa tahun kedepan
pekerjaan rumah dapat terselesaikan.(Ricki M. Y.)


